Mahasiswa Teknik Elektro Untag Surabaya Ciptakan Sistem Deteksi Kualitas Air Minum Berbasis Sensor

Rabu,18 Februari 2026 - 21:01:24 WIB
Dibaca: 30 kali

Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Aditya Vahresi Ramadhan, berhasil menciptakan alat inovatif bertajuk Sistem Deteksi Kualitas Air Minum Kemasan dan Isi Ulang Berbasis Sensor pH dan Turbidity. Inovasi tersebut terpilih sebagai salah satu karya menarik calon wisudawan Untag Surabaya yang akan diwisuda pada 14–15 Februari 2026, karena dinilai memiliki manfaat nyata bagi masyarakat serta berpotensi diterapkan pada sektor industri air minum.

Karya inovasi ini berawal dari hobi Aditya yang gemar melakukan kegiatan hiking dan pendakian gunung. Dari pengalaman tersebut, ia kerap menemukan sumber air alami yang dimanfaatkan pendaki untuk diminum secara langsung. Namun, menurutnya, selama ini keputusan mengonsumsi air tersebut lebih banyak didasarkan pada kepercayaan tanpa didukung data valid mengenai kualitas air. “Ketika mendaki gunung, sering ada sumber air yang langsung diminum. Padahal kita tidak tahu apakah air tersebut benar-benar bersih atau tidak, karena bisa saja tercemar tanah atau kotoran lain. Dari situ muncul ide untuk membuat alat pendeteksi kualitas air,” jelas Aditya.

Dalam proses pengembangan tugas akhirnya, Aditya mendapat bimbingan dari dosen pembimbing, Ir. Kukuh Setyajid, M.T. Awalnya, penelitian difokuskan pada pengujian kualitas air sumber pegunungan. Namun, berdasarkan arahan dosen pembimbing dan dosen penguji, penelitian kemudian dikembangkan ke arah pengujian kualitas air minum kemasan dan air isi ulang yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat luas.

Alat ini bekerja menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor pH dan sensor turbidity (kekeruhan air). Sensor pH berfungsi untuk mengukur tingkat keasaman air dalam skala 1 hingga 14. Secara umum, air dengan pH 6,5 hingga 8,5 dikategorikan netral dan layak konsumsi. Sementara itu, sensor turbidity digunakan untuk mendeteksi tingkat kejernihan air yang menjadi indikator keberadaan partikel kotoran. “Hasil pengukuran ditampilkan melalui LCD yang menunjukkan nilai pH, tingkat kekeruhan, serta status kelayakan air untuk dikonsumsi. Sistem ini dirancang agar mudah digunakan secara langsung, terutama untuk kebutuhan lapangan,” tambahnya.

Dalam proses pengembangan alat, tantangan terbesar yang dihadapi adalah proses kalibrasi sensor. Sensor pH dan turbidity memerlukan pengaturan awal agar pembacaan data sesuai dengan kondisi sebenarnya. Proses kalibrasi dilakukan dengan menyesuaikan hubungan antara tegangan listrik dengan nilai pH maupun tingkat kekeruhan air sehingga hasil pengukuran menjadi lebih akurat.

Aditya juga menambahkan dari sisi manfaat alat ini dinilai mampu memberikan rasa aman dan kepastian bagi konsumen maupun pelaku usaha air minum isi ulang. “Dengan adanya data pengukuran yang valid, kualitas air tidak lagi hanya berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan hasil pengujian yang terukur,” ujarnya.

Terpilihnya karya ini sebagai karya menarik calon wisudawan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Aditya. Ia mengaku senang karena inovasinya dapat diapresiasi dan dinilai bermanfaat bagi masyarakat.

Ia juga menyampaikan harapannya kepada mahasiswa, khususnya di lingkungan Teknik Elektro Untag Surabaya, agar terus mengembangkan inovasi yang berdampak nyata. “Saya berharap adik-adik bisa melanjutkan dan mengembangkan alat ini menjadi lebih sempurna dan lebih valid sesuai standar yang ada. Semoga juga muncul inovasi-inovasi lain yang berdampak langsung bagi masyarakat maupun industri,” ungkapnya.

 


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya || Sistem Untag Surabaya|| Sistekin Untag Surabaya